Tidak hanya saling bersilaturahmi untuk memaafkan dan menyiapkan menu Lebaran saja, namun di Yogyakarta, terdapat tradisi yang tak pernah dilewatkan setiap Hari Raya Idulfitri, yaitu tradisi Grebeg Syawal.
Tradisi Grebeg Syawal adalah perayaan yang sarat makna, menggabungkan nilai-nilai keagamaan dan kearifan budaya dalam satu rangkaian prosesi yang memukau. Tradisi Keraton Yogyakarta ini menandai berakhirnya bulan suci Ramadan.
Di balik riuhnya tradisi ini, tersimpan kisah sejarah dan warisan leluhur yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Mari pahami makna mendalam di balik tradisi Grebeg Syawal dalam artikel di bawah ini.
Apa Itu Tradisi Grebeg Syawal?
Grebeg Syawal adalah upacara tradisional yang dilaksanakan setiap Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal oleh Keraton Yogyakarta. Tradisi ini telah diwariskan selama berabad-abad, tepatnya sejak abad ke-16 dan masih dilestarikan sampai saat ini.
Grebeg Syawal merupakan bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam, wujud syukur Ngarso Dalem berakhirnya bulan Ramadan sekaligus sedekah hasil tani.
Pada upacara ini, terdapat Gunungan (berbagai hasil bumi lainnya yang disusun tinggi seperti gunung) yang dilepas melalui proses iring-iringan prajurit keraton.
Baca juga: 10 Kegiatan yang Dilakukan Saat Hari Raya Idul Fitri
Sejarah Tradisi Grebeg Syawal
Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta diadakan pertama kali oleh Sultan Hamengkubuwono I. Kabarnya, asal-usul perayaan Grebeg di Keraton Yogyakarta berasal dari tradisi Jawa Kuno bernama Rajawedha. Pada tradisi ini, raja membagikan sedekah untuk mewujudkan masyarakat yang makmur.
Namun, ketika Islam masuk ke Kerajaan Demak, upacara ini sempat terhenti dan membuat rakyat resah, lalu meninggalkan kerajaan yang baru berdiri tersebut.
Kemudian, tradisi sedekah ini diteruskan oleh Walisongo sebagai media penyebaran agama Islam. Mulanya, tradisi ini dikenal sebagai Sekaten.
Perhelatan Sekaten ini awalnya diselenggarakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad, lalu digelar lagi untuk menandai berdirinya Masjid Demak yang pada saat itu bertepatan dengan Hari Raya Iduladha. Sejak itu, tradisi ini dilakukan tiga kali setahun, termasuk saat Hari Raya Idulfitri.
Dimulai dari Kerajaan Demak, tradisi sedekah tersebut dilaksanakan secara turun-temurun hingga saat ini.
Pada upacara Grebeg Syawal pertama, Sultan Hamengkubuwono I membuat Gunungan Lanang/Kakung, Gunungan Wadon/Estri, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan, Gunungan Dharat, dan Gunungan Bromo/Kutug. Namun, khusus Gunungan Bromo/Kutug hanya dikeluarkan saat tahun dal.
Sayangnya, setelah Indonesia merdeka dan Keraton Yogyakarta berintegrasi dengan RI, upacara ini sempat kehilangan gaungnya. Namun, memasuki tahun 1970-an, upacara Grebeg mulai eksis kembali seiring dengan perkembangan wisata.
Kendati demikian, tatalaksana Grebeg tidak sama dari tahun ke tahun pada kala itu hingga munculnya UU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Setiap Grebeg, Keraton akan mengeluarkan lima jenis Gunungan yang jumlah keseluruhannya ada tujuh, di antaranya:
- Tiga Gunungan Lanang.
- Satu Gunungan Wadon.
- Satu Gunungan Darat.
- Satu Gunungan Gepak.
- Satu Gunungan Pawuhan.
Ketujuh Gunungan tersebut akan diusung oleh para Abdi Dalem dan dikawal Prajurit Bregada dari Alun-Alun Utara Keraton menuju tiga tempat, antara lain:
- Lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe.
- Satu gunungan dibawa ke Pura Pakualaman.
- Satu Gunungan ke Kepatihan.
Gunungan yang telah dipersembahkan tadi kemudian diserahterimakan, dan setelah diiringi doa, masyarakat dipersilakan untuk merebutnya. Pembagian seluruh gunungan kepada warga menandai berakhirnya Upacara Grebeg Keraton Yogyakarta.
Baca juga: Mengenal Tradisi Open House Lebaran dan Tips Persiapannya
Makna Mendalam Tradisi Grebeg Syawal
Bukan hanya sekadar perayaan, tradisi setelah Lebaran ini memiliki makna yang mendalam. Grebeg Syawal merupakan simbol rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, sekaligus bentuk kepedulian dan sedekah terhadap sesama.
Sementara itu, Gunungan yang dibagikan kepada masyarakat melambangkan rasa syukur atas panen yang melimpah, serta sebagai bentuk sedekah dari Sultan untuk rakyatnya. Tradisi ini juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi masyarakat Yogyakarta.
Nah, kini Anda sudah memahami apa yang dimaksud dengan Grebeg Syawal. Bagi Anda yang tinggal di Yogyakarta, tentu tidak ingin ketinggalan momen ini, bukan?
Bagi yang berpartisipasi secara langsung maupun menyaksikan Grebeg Syawal, pastikan Anda selalu menjaga kondisi tubuh selama prosesi berlangsung. Sediakan AQUA Botol 600 ml agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
Dengan hidrasi yang cukup, setiap detik perayaan dapat dinikmati dengan penuh energi dan keceriaan. So, Jangan lupa #AQUADULU karena tidak semua air itu AQUA.
AQUA datang dari gunung terpilih yang terlindungi sumber mata airnya melalui, 9 kriteria pemilihan, 5 tahapan, serta minimal 1 tahun penelitian terhadap lebih dari 600 parameter.
AQUA sudah lolos uji SNI, BPOM, dan telah bersertifikat Halal. AQUA 100% Murni, 100% Indonesia, dan 100% Halal.
Baca juga: Mengenal Megengan, Tradisi Menyambut Bulan Puasa di Jawa